Tuesday, January 22, 2019

Impian dan khayalan #Part43

Duhai penulis,
Aku hanya melihat keresahan diruang hati mu,
Meskipon tidak terlihat di riak wajah mu,
Kenapa kah itu?
Apakah sudah sampai masa engkau meluahkan sedikitnya kepada ku?

Duhai hati,
Sungguhnya engkau tahu,
Aku ini bukannya tergolong dikalangan orang yang kuat-kuat.

Apakah kau maksudkan orang kuat itu orang yang selalu pergi gym?

Pandai kau bergurau ya?

Lebih baik kita mula kan malam ini dengan gurauan,
Sebab aku tahu,
Di tengah, di akhirnya,
Pasti sedih juga kau luahkan,

Apakah kau mempunyai dua kerja sekarang?
Satu menjadi teman luahanku,
Satu menjadi pak nujum yang tahu mentafsir apa yang bakal berlaku?

Baiklah,
Maaf kan aku, aku harapkan gurauan itu mampu mengukir sedikit senyuman,
Tidak berjaya nampaknya.

Duhai si penulis,
Sudah lama ingin aku bertanya,
Izinkan aku mengajukan soalan itu malam ini ya.

Silakan duhai hati,
Usah minta izin,
Kau saja penemanku malam ini.

Kenapa ya, Dikala susah kau selalu ke sini,
Dikala gundah gulana, rajin pula kau menulis sedikit coretan disini,
Apakah kau tidak punya sesiapa untuk dikongsi?

Duhai hati,
Aku boleh menjawab pertanyaan mu itu dengan jelas sekali.
Pertama nya,
Siapa yang menciptakan aku?
Siapa juga yang menciptakan mu?

Allah yang maha satu, tiada tuhan melainkan nya duhai si penulis.

Benar, jadi siapa pula yang tahu segala isi hati kita,
Tatkala bila mana kita sedih, gembira mahupun resah?

Allah juga yang maha mengetahui segala duhai si penulis,

Jadi kenapa kita perlu bersusah mencari sesama kita,
Yang semua nya sama di mata Sang pencipta,
Mengadu domba hanya tatkala mereka sudi untuk mendengar,
Bila mana Dia selalu ada untuk kita,
Dikala siang mahupun malam,
Dikala cerah mahupun bergelap,
Dikala hujan dan akhirnya pelangi menjelma,

Benar wahai si penulis, 
Aku cukup mengerti,
Tetapi bukan kah itu sifat manusia biasa,
Yang saling memerlukan sesama kita,
Sekurang-kurang nya untuk melegakan hati sesama kita,

Ya benar duhai hati,
Itu lah kebiasaan manusia,
Mengadu mengharapkan kan sesama manusia,
Sehinggakan lupa, siapakah sebenarnya yang patut mereka cari,
Tatkala mereka diatas, mahupun telah jatuh dihentak duniawi,

Tapi,
Ingatlah,
Allah cukup marah jika kita tidak mengadu kepadanya,
Sebab itu dia turunkan ujian,
Yang kadang-kadang tiada titik noktahnya,
Sebab dia tahu,
Umatnya cukup leka dan lupa bila dicurahkan dengan kebahagiaan,

Ingatlah,
Ujian itu kadang-kadang sebagai penghapus dosa silam kita terus di atas dunia ini,
Ujian itu kadang-kadang sebagai penyebab untuk hikmah yang akan kita kecapi esok hari,

Hati,
Aku sebenarnya sudah penat dengan permainan dunia,
Ingin sekali aku kembali ke jalan yang sebenar-benarnya,
Aku tidak sanggup lagi diuji,
Tapi, ujian itu la yang mematangkan aku,
Tapi, ujian itu la yang menarik aku kembali kepada Pencipta ku,

Aku bersyukur aku diuji hanya sebegini,
Sesungguhnya, kehidupan orang lain lagi kelam,
Tanpa langsung tiada cahaya didalamnya,

Duhai penulis,
Aku tahu, setiap sesuatu di benak mu,
Semuanya aku tahu,
Aku tahu, tiap sebab atas sesuatu yang engkau coretkan,
Semuanya aku mengerti,

Bersabarlah duhai si penulis,
Kalau bukan kerana resah mu itu,
Tidak pula kau menjenguk ku disini,
Tidak juga kau berbalik kepada Tuhan mu yang satu.

Semoga mudah urusan mu si penulis.
InshaAllah

No comments:

Post a Comment